Total Tayangan Laman

Senin, 28 November 2011

Lowongan Kerja Kebumen bulan Desember 2012

1. PT. SIIX BATAM: Perempuan
2. Rita Pasaraya Kebumen: Pramugari
3. PT. Swakarsa Group Kalimantan: Pekerja sawit, perawat
4. PDM (Pimpinan daerah muhammadiyah Kebumen) ;Staff adminitras PDM Kebumen
5. PT ASTRA Group= ABKK Kebumen.

Persyaratan dan kosnultasi kerja lowongan di atas, bisa di tanyakan dan info kerja tersebut dipasang di Bursa Kerja papan pengumuman Disnakertransos Kebumen, jl Cendrawasih no 24 Kebumen,

Pengumman
bagi Pencari kerja, kami Disnaktransos Kebumen menyediakan iBursa Kerja Online, Lowongan terkini, per minggu bisa update : Situs resmi Kementrian Nakertrans dan Disnakertransduk propinsi Jawa tengah .Silakan klik, Bursa Kerja online  www.infokerja.go.id

Desa Rupiah Kebumen

Dalam tata bahasa kenenagaan kerja "usia pekerja atau masa produktif". Usia pekerja porduktif antara umur 18 tahun sampai dengan 35 tahun,  ini sangatlah banyak. jumlah  460 desa di kebumen, sudah ditinggalkan oleh 90% orang, dari catatan atas pengamatan team TP2K2P disnakertransos Kebuemn pada tahun 2011 bulan okober, jumlah lulusan SLTA/SMK/MA dan sederajatnya di Kebumen. Jumlah lulusan Dikpora (Dinas Pendidikan pemda dan olah raga Kabupaten Kebumen tahun ajaran 2011 sejumlah 80.000 lulusan, angka pencari kerja yang cukup bompastis ini, memicu adanya emigrasi ke daerah lain untuk mencari kerja demi bertahan hidup.

Dari jumlah 80.000,- pada bulan oktober  di Kebumen misalnya, ternyata kerja di formal 8.000 lulusan, selebihnya sekitar 72.000 kerja disektor non formal.Angka ini sangat potensi untuk saatnya kita membuka lapangan kerja desa, sebagai jalan solusi penyerapan dan perluasan kesempatan kerja pedesaan, Persoalannya SDM dan SDA potensi desa ini sangtlah minim, bagaikan langit dan bumi, ini keadaan realitas yag harus dipecahkan bersama, demi menciptakan desa yang tidak ditinggalkan dengan cara: mencipatkan "desa rupiah".

Desa rupiah yang di maksud desa yang terdapat banyak lapangan kerja berpenghasilan untuk mencukupi komunitas desa, sehingga desa kecuali sebagai pusat peradaban, pendidikan, Agama dan budaya, juga bisa di ciptakan pusat kegiatan eknomi pedesaan. Solusi wirausaha sebagai penyerapan dalam desa wirausaha ini sangat tepat dan sesuai dengan kebutuhan para pekerja desa, terutama angkatan produktif dan orang tua produktif.

Dari maping potensi desa sebagai daerah agraris pedesaan dan pegunungan dan kemaritiman ini sangtlah cukup untuk menciptakan "DESA RUPIAH". Memang untuk mencapai desa rupiah, semua pelaku, masyarakat, pemerintah, pemodal dan penyediaan SDM serta pangsa pasar produk desa harus menjadi satu kesatuan kolaisi wirausaha desa. pasti banyak uang di desa.. "saatnya tidak usah keluar negeri atau ke kota besar, karena sudah tidak pantas di negeri yang kaya raya, tetapi miskin". mudah-mudahan desa rupiah berbasisi usaha akan terjadi di kemudian hari.

Eko Wahyudi
087837910001

Kebumen, 29 Nopember 2011

Menggerakan Koalisi Wirausaha Pedesaan

                                                                       
Kelemahan wirausaha desa di negeri Indonesia terutama di Kabupaten Kebumen Jawa tengah, yaitu: berdiri sendiri, bak manajemen tukang sate kambing, beli kambing sendiri, menyembelih kambing sendiri, membakar sate sendiri, membuat sindik sate sendiri dan memasarkan sendiri. Semua serba sendiri. Sehingga ketika ada persoalan usaha ditanggung sendiri dan ancaman bangkrut lebih besar, serta tidak bisa menyerap tenaga kerja.

di abad 21 (abad perang eknomi) di pedesaan luar biasa gerakan usah dunia yang dikuasai para pialang ekonom dunia (kapitakis dunia), luar biasa ini. Hal ini gambaran bahwa ada nilai peradaban yang bergeser kebudayaan manusia. Perubahan setiap masa merupakan daripada pemikiran manusia dalam mempertahankan hidup. Hanya akal dan berpikir yang teoat dan cerdas dalam memlih usaha sehingga bisa menguasai dunia, mengasai seluruh desa disuatu negeri. Timbul pertanyaan,  apakah kita diam dan tingal melihat mereka yang bisa berwirusaha dari kecil menjadi menengah atau wirausaha raksasa dunia menguasai desa kita.
China sebagai guru usaha  tahun 2011 ini, negeri ini yang paling siap ketika melakukan pasart bebas, di balik kesiapan pasar bebas, china juga sudah berkoalisi dengan terpaduan atas nilai kebudayaan, ras, senasib sepenanggung, etos kerja keras dan saling membantu sehingga badai  yang menerjang mereka para pelaku usaha china tidak goyang, beda dengan negeri ini yang belum bisa terpadu (koalisi usaha).
Tapi belum terlambat bagi kita sebagai  negeri dan daerah yang masih terus belajar  melengkapi kekurangan dan mencari sebuah identitas kebudayaan, mencari sebuah persatuan,  mencari nilai gotong royong. Sedang belajar hidup kerja keras setelah sekian lama nilai kebudayan kita hancur sebagai Negara jajahan 350  tahun lamanya, selin itu kita juga sebagai bangsa yang  besar   mempunyai kekuatan  bahan baku usaha,
Bahan baku usaha masih belum kita berdayakan dengan benar, masih untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup  saja, masih sekedar asal bisa di makan, masih belum bisa berkembang secara tekhnologi. Semua masih apa adanya, dengan kemampuan yang kita punyai.
Bamper pasar bebas
Tetapi tidak apalah, bahwa negara kita kaya, jumlah penduduk kita juga banyak, hal ini menjadi tantangn untuk bisa menegmbang usaha kecil,. Usaha kecil di pedesaan ini menjadi bamper terakhir pasar bebas, kekuatan wirausaha kecil di pedesaan, adalah sebuah kekuatan yang sangat luar biasa untuk bisa melakukan loncung produk keluar negeri dengan barisan pasar bebas bersama negeri yang sudah siap.
Pasar bebas dan ACFTA serta MDG'S sebagai satu kesatuan kapitalis, mereka adalah negara negara yang sudah maupan secarfa politik ekonomi, mereka sudah bisa memproduksi barang, mereka sudah mempunyai skill ketrampilan sesuai dengan ahlinya, mereka sudah bisa membangun pasar yang lebih mengerikan mereka menguasai sistem permodalan antar bank mereka dirikan.
Desa sebagai sasaran terahir dari produksi mereka, desa juga menjadi sebuah pasar empuk kekuatan produksi. Dengan cara membeli, mereka juga mendidik kita ketergantungun membeli produk mereka, sehingga kita tidak boros karena mereka mendidik sesuatu haris dibeli dengan uang, sementara kemampuan orang, belum bisa memproduksi barnag seperti mereka, yang baik, murah dan menarik.
Selain itu desa juga menjadikan mereka pusat ketenagakerjaan bagi perusahan yang mereka memiliki, tenaga desa yang produktif dengan dibayar sesuai dengan ukuran UMR, dan kadang tidak sesuai dengan biaya hidup sebagai ruh perusahaan mereka, hanya bisa bertahan hidup dan tidak mempu berpikir  kearah wirausaha. Sehinggga mental-mental pekerja/ mental kuli dengan perusahaan miliki negara kaya,
Solusi Menyerap tenaga kerja
Untuk menghadapi itu semua, kiranya ada pemikrian yang tepat dalam pengembanagan usaha kecil di pedesaan sebagai jalan mengatasi ekonomi, selain itu juga menambah penyerapana tenaga kerja. Penciptaan  usaha kecil ini juga sangat berpeluang, ketrampilan dan skil dalam pengolahan sumber daya lama desa yang dimiliki tanpa merusak  SD yang dimiliki ini yang perlu ditekankan, kemudian pengembangan permodalan,  serta pemasaran, semuanya itu koalisi usaha, sehingga usaha kecil di pedesaa bisa bertahan sampai lama dan bisa berjalan di masa mendatang, menghadapi  gelombangpasar bebas.
Desa kita yang searnag ditinggalkan, karena dianggap desa tidak memberi lapangan pekerjaan yang layak, orang desa lebih senang bekerja diluar desa, karena lapangan pekerjaan kita tidak ada, belum ada terobosan yang jitu dalam mengembangkan desa menjadi pusat pekerjaa. Orang desa pada umumnya, bahwa mayoritas hidup didesa adalah sebuah mitos ketidakpercayaan kita, ketidak kemampuan kita dan ketika kesiapan kita menghapi sebuah gebrakan kebudayaan di desa.
Saatnya sekarang perlu dimulai dengan sekecil-kecil membuat wirausaha pedesaan, sebagai jalan untuk mengolah, membangun dan melestarikan desa sebagai pusat pekerjaan didesa, desa juga dijadikan pusat produksi bahan baku, dan pusat ketenagakerjaan. Mari bangun desa dengan wirausaha, dengan tidak merusak alam desa.
Oleh : Eko Wahyudi
Tenaga Pendamping Penggerak Kesempatan Kerja Pedesaan
Disnakertransos Kebumen

087837910001

Kebumen, 13 Nopember

Minggu, 13 November 2011

Kirim Pelatihan Wiruasaha Ke Lembang Bandung

Selama 11 hari mulai tanggal 10 Oktober sampa dengan 21 Oktober 2011 TKS TP2K2P Kebumen mengirimkan 2 orang wirausaha ke Lembang, Bandung. acara tersebut merupakan punya gawe dari pada balai besar produktifutas kementrian Jakarta. dua nama  orang tersebut, Khoeriyah perajin emping setrojenar dan Ahmad Syahron Kalijirek Kebumen.
Selama di pelatihan mereka di gembelang untuk emnjadi usaha dengan di fokuskan pada pengelolaan agribisnis. 2 orang tersebut merupakan bagian 24 wirusaha desa dari pada  dampingan TKS TP2K2P Kebumen  sebagai cara untuk perluasan kesempatan kerja di pedesaan.
Rencana kedepan TP2K2P kebuemn akan memebentuk paguyuban wirusaha desa sebagai jalan pembinaan kearah yang lebih maju, selain itu juga sebagai bukti bahwasanay pendampingan di tahun 2012 perlu di teruskan. demi tercapainya pendampingan secara kontinu oleh pemerintah kebumen.bukan hanay pemerintah dalam pembinaan pengembangan usaha, rencana kedepan juga akan menggandeng pemodal CSR BUMD.


SOLUSI PENYERAPAN TENAGA KERJA PEDESAAN


                                                                       
Kelemahan wirausaha desa di negeri Indonesia terutama di Kabupaten Kebumen Jawa tengah, yaitu: berdiri sendiri, bak manajemen tukang sate kambing, beli kambing sendiri, menyembelih kambing sendiri, membakar sate sendiri, membuat sindik sate sendiri dan memasarkan sendiri. Semua serba sendiri. Sehingga ketika ada persoalan usaha ditanggung sendiri dan ancaman bangkrut lebih besar, serta tidak bisa menyerap tenaga kerja.

di abad 21 (abad perang eknomi) di pedesaan luar biasa gerakan usah dunia yang dikuasai para pialang ekonom dunia (kapitakis dunia), luar biasa ini. Hal ini gambaran bahwa ada nilai peradaban yang bergeser kebudayaan manusia. Perubahan setiap masa merupakan daripada pemikiran manusia dalam mempertahankan hidup. Hanya akal dan berpikir yang teoat dan cerdas dalam memlih usaha sehingga bisa menguasai dunia, mengasai seluruh desa disuatu negeri. Timbul pertanyaan,  apakah kita diam dan tingal melihat mereka yang bisa berwirusaha dari kecil menjadi menengah atau wirausaha raksasa dunia menguasai desa kita.
China sebagai guru usaha  tahun 2011 ini, negeri ini yang paling siap ketika melakukan pasart bebas, di balik kesiapan pasar bebas, china juga sudah berkoalisi dengan terpaduan atas nilai kebudayaan, ras, senasib sepenanggung, etos kerja keras dan saling membantu sehingga badai  yang menerjang mereka para pelaku usaha china tidak goyang, beda dengan negeri ini yang belum bisa terpadu (koalisi usaha).
Tapi belum terlambat bagi kita sebagai  negeri dan daerah yang masih terus belajar  melengkapi kekurangan dan mencari sebuah identitas kebudayaan, mencari sebuah persatuan,  mencari nilai gotong royong. Sedang belajar hidup kerja keras setelah sekian lama nilai kebudayan kita hancur sebagai Negara jajahan 350  tahun lamanya, selin itu kita juga sebagai bangsa yang  besar   mempunyai kekuatan  bahan baku usaha,
Bahan baku usaha masih belum kita berdayakan dengan benar, masih untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup  saja, masih sekedar asal bisa di makan, masih belum bisa berkembang secara tekhnologi. Semua masih apa adanya, dengan kemampuan yang kita punyai.
Bamper pasar bebas
Tetapi tidak apalah, bahwa negara kita kaya, jumlah penduduk kita juga banyak, hal ini menjadi tantangn untuk bisa menegmbang usaha kecil,. Usaha kecil di pedesaan ini menjadi bamper terakhir pasar bebas, kekuatan wirausaha kecil di pedesaan, adalah sebuah kekuatan yang sangat luar biasa untuk bisa melakukan loncung produk keluar negeri dengan barisan pasar bebas bersama negeri yang sudah siap.
Pasar bebas dan ACFTA serta MDG'S sebagai satu kesatuan kapitalis, mereka adalah negara negara yang sudah maupan secarfa politik ekonomi, mereka sudah bisa memproduksi barang, mereka sudah mempunyai skill ketrampilan sesuai dengan ahlinya, mereka sudah bisa membangun pasar yang lebih mengerikan mereka menguasai sistem permodalan antar bank mereka dirikan.
Desa sebagai sasaran terahir dari produksi mereka, desa juga menjadi sebuah pasar empuk kekuatan produksi. Dengan cara membeli, mereka juga mendidik kita ketergantungun membeli produk mereka, sehingga kita tidak boros karena mereka mendidik sesuatu haris dibeli dengan uang, sementara kemampuan orang, belum bisa memproduksi barnag seperti mereka, yang baik, murah dan menarik.
Selain itu desa juga menjadikan mereka pusat ketenagakerjaan bagi perusahan yang mereka memiliki, tenaga desa yang produktif dengan dibayar sesuai dengan ukuran UMR, dan kadang tidak sesuai dengan biaya hidup sebagai ruh perusahaan mereka, hanya bisa bertahan hidup dan tidak mempu berpikir  kearah wirausaha. Sehinggga mental-mental pekerja/ mental kuli dengan perusahaan miliki negara kaya,
Menyerap tenaga kerja
Untuk menghadapi itu semua, kiranya ada pemikrian yang tepat dalam pengembanagan usaha kecil di pedesaan sebagai jalan mengatasi ekonomi, selain itu juga menambah penyerapana tenaga kerja. Penciptaan  usaha kecil ini juga sangat berpeluang, ketrampilan dan skil dalam pengolahan sumber daya lama desa yang dimiliki tanpa merusak  SD yang dimiliki ini yang perlu ditekankan, kemudian pengembangan permodalan,  serta pemasaran, semuanya itu koalisi usaha, sehingga usaha kecil di pedesaa bisa bertahan sampai lama dan bisa berjalan di masa mendatang, menghadapi  gelombangpasar bebas.
Desa kita yang searnag ditinggalkan, karena dianggap desa tidak memberi lapangan pekerjaan yang layak, orang desa lebih senang bekerja diluar desa, karena lapangan pekerjaan kita tidak ada, belum ada terobosan yang jitu dalam mengembangkan desa menjadi pusat pekerjaa. Orang desa pada umumnya, bahwa mayoritas hidup didesa adalah sebuah mitos ketidakpercayaan kita, ketidak kemampuan kita dan ketika kesiapan kita menghapi sebuah gebrakan kebudayaan di desa.
Saatnya sekarang perlu dimulai dengan sekecil-kecil membuat wirausaha pedesaan, sebagai jalan untuk mengolah, membangun dan melestarikan desa sebagai pusat pekerjaan didesa, desa juga dijadikan pusat produksi bahan baku, dan pusat ketenagakerjaan. Mari bangun desa dengan wirausaha, dengan tidak merusak alam desa.
Oleh : Eko Wahyudi
Tenaga Pendamping Penggerak Kesempatan Kerja Pedesaan
Disnakertransos Kebumen

087837910001

Kebumen, 13 Nopember 2011


Jumat, 24 Juni 2011

Irma Suryanti Penyandang Cacat Sukses Wirausaha


Irma Suryati mengalami kelumpuhan saat usia 4 tahun akibat polio. Kehidupannya menuju usia dewasa adalah kisah panjang yang penuh perjuangan. Irma yang bersuamikan Agus Priyanto, yang juga penyandang cacat kaki, telah membuktikan bahwa seburam-buram harapan, selalu ada celah yang bisa membawa berkah dan peluang di masa depan.

Pasangan itu berhasil membangun usaha kerajinan keset dengan modal kain-kain sisa. Usaha mereka kini sudah sampai ekspor ke beberapa negara, dan mereka kini memiliki 2.500 pengrajin dan 150 diantaranya adalah penyandang cacat.

Irma telah menerima banyak penghargaan, antara lain Wirausahawati Muda Teladan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2007), Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen (2008), dan Penghargaan dari Jaiki Jepang, khusus untuk orang cacat.

Pada Awalnya…

Sejak bayi, Irma Suryati sudah menderita layu kaki. Penyebabnya adalah virus Polio. Meski masih bisa berjalan normal sampai sekolah menengah atas (SMA), kaki Irma mudah lemas. “Kalau disenggol, langsung jatuh,” ujar wanita kelahiran Semarang, 1 Januari 1975 ini.

Sejak saat itu, sang ayah menyuruh Irma, menggunakan tongkat untuk berjalan hingga kini. Kondisi kaki itulah yang mendorong Irma melakukan sesuatu yang berarti bagi dirinya dan orang lain. Setelah lulus dari SMAN 1 di Semarang, Irma mencoba membuat keset dari kain perca, benda sederhana untuk membersihkan telapak kaki.

“Aku mencoba membuat keset dari kain sisa industri garmen,” ujar Irma. Kebetulan, di dekat rumahnya di Semarang terdapat banyak sisa kain industri garmen. Kain sisa itu ia jahit menjadi aneka bentuk keset.

Awalnya, keset itu dibuat hanya untuk kebutuhan sendiri. Lambat laun, karyanya mulai dilirik tetangga. Pasar kecil pun mulai terbentuk. Keputusan menjadi perajin keset makin bulat ketika ia menikah dengan Agus Priyanto, penyandang cacat yang jago melukis. Mereka sepakat membuka usaha kecil pembuatan keset pada 1999. Kala itu, Irma dan Agus dibantu 5 karyawan.

Ketika usaha mereka mulai berkembang, Irma merasa tak leluasa lagi menjalankan usaha di rumah orang tuanya. Pada 2002, pasangan muda ini memutuskan pindah ke Kebumen, kampung halaman Agus. Mereka membeli rumah di Jalan Karang Bolong kilometer 7, Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen. Dari rumah itulah Irma mengendalikan usahanya.

Irma tak mau membuat usaha ecek-ecek. Ia membentuk usaha berbadan hukum yang diberi nama Usaha Dagang Mutiara Equipment. Perempuan itu juga membentuk Pusat Usaha Kecil Menengah Penyandang Cacat. “Awalnya susah sekali mengorganisasi orang,” kata Irma.

Namun Irma adalah sosok yang tidak mau mengalah pada keadaan. Ia mendatangi penduduk dari rumah ke rumah untuk mendorong ibu rumah tangga menjadi produktif dengan mengajari mereka membuat keset. “Perempuan sekarang harus berdaya secara ekonomi,” katanya.

Menuai Hasil

Irma juga pernah menanggung sinisme dan cibiran oleh orang-orang yang melihat usaha itu dengan sebelah mata, apalagi ketika mereka melihat kaki Irma yang cacat, tapi Irma tak patah semangat. Hasilnya pun mulai tampak. Ia berhasil mengajak beberapa ibu rumah tangga belajar membuat keset. Ketika sudah terampil, mereka mendapat pasokan bahan baku dan mesin jahit dari Irma.

Saat masyarakat mulai menyadari tentang manfaat keterampilan yang diberikan Irma, minat menjadi pembuat keset pun tak terbendung. Irma membuat koperasi simpan pinjam pada 2003 untuk menampung kegiatan ekonomi 1.600 pembuat keset hasil binaannya.

Anggota koperasi keset ini tersebar di 11 kecamatan di Kebumen. Irma juga menggunakan jaringan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Akhirnya, usaha keset ini merambah ke Banyumas dan Solo. Bahkan Irma menggandeng kelompok waria dan pekerja seks komersial di Purwokerto. Hasilnya, 20 waria dan pekerja seks komersial bisa membuka gerai di perumahan Limas Agung, Purwokerto.

Tiap bulan, perajin mendapat kiriman kain sisa sebagai bahan baku. Irma mendatangkan 10 ton kain sisa dari Semarang setiap bulan. Omzet bulanannya bisa mencapai Rp 40-50 juta.

Untuk strategi pemasaran, Irma mengandalkan 15 penjual. Selain itu, ia juga menitipkan barang produksinya di beberapa gerai yang tersebar di banyak kota. Salah satunya adalah di showroom milik Kementerian Pemuda dan Olahraga di Jakarta. Kebetulan, Irma sering bertemu dengan Pak Menteri, Adyaksa Dault.

“Saya juga diajak oleh Menpora waktu itu, Pak Adhyaksa Dault ke Melbourne, Australia mewakili Indonesia dalam pameran kerajinan. Padahal pameran itu sebetulnya untuk umum, bukan penyandang cacat. Benar-benar membanggakan karena kami penyandang cacat setara dengan orang normal,” ungkapnya.

Ekspor Produk

Selain memasarkan produk di dalam negeri, Irma juga memasarkannya ke luar negeri, yakni Austarlia, Jerman, Jepang, dan Turki. “Selama ini masih memakai jasa orang lain. Ke depan nanti, saya ingin mengekspornya sendiri agar lebih untung,” tutur Irma.

Irma mengadakan pertemuan tiap tiga bulan sekali untuk menjaga kualitas produknya. Forum itu diikuti koordinator tiap kecamatan. Selain membicarakan kualitas produk, ia juga memperkenalkan inovasi baru kerajinan tangan.

Saat ini, Irma memproduksi 42 macam keset. Ada yang berbentuk elips, binatang, atau bunga. Di pasaran, keset-keset itu dijual Rp 15 ribu untuk konsumen dalam negeri, dan Rp 35 ribu untuk konsumen luar negeri.

Sukses membuat keset tak lantas membuat ibu lima nak ini ongkang-ongkang kaki. Ia dan kawan-kawannya terus mengembangkan kerajinan lain, misalnya membuat kotak tisu dari lidi. “Ada orang Turki yang memesannya,” ujar Irma.

Kini Irma membuat desain sajadah dari tikar pandan. Kebetulan, di Kebumen banyak perajin pandan yang belum mampu membuat kerajinan dengan bahan baku anyaman pandan. “Padahal kalau dibentuk menjadi kerajinan, nilai jualnya akan meningkat,” ujar Irma.

Ironisnya, pengikut Irma justru kebanyakan datang dari luar desanya. Bahkan banyak penduduk tidak mengenal sosok Irma, meskipun mereka tinggal di desa yang sama. “Oh, orang yang cacat itu ya?” kata salah satu tetangga Irma ketika ditanya Tempo.

Sebagai penyandang cacat, Irma bukanlah orang yang cengeng. “Cacat bukan halangan untuk berkarya,” kata dia. Irma mengaku sering sedih melihat para penyandang cacat yang masih terdiskriminasi, terutama yang ingin menjadi pegawai negeri sipil. Karena itulah Irma memutuskan membuka lapangan kerja sendiri. “Rencananya saya akan membangun pabrik di belakang rumah, khusus untuk orang cacat,” ujar Irma.

Rencana ke Depan

Irma kini membangun rumah bagian belakang dengan ukuran sekitar 7 m x 9 m. Meski tergolong kecil, tetapi rumah yang hampir selesai tersebut akan dipakai untuk menampung para penyandang cacat. Mereka bakal bekerja dan diberikan tempat menginap.

“Kami memang menyiapkan tempat bagi penyandang cacat yang rumahnya jauh. Jika mau menginap, silakan saja, tetapi tempatnya juga sederhana seperti ini. Di sini bisa dijadikan pusat usaha penyandang cacat. Niat saya memang bagaimana para penyandang cacat bisa lebih kreatif dan mereka mampu mandiri. Itu secara langsung akan mengangkat martabat penyandang cacat dan mengubah pandangan masyarakat kalau penyandang cacat hanya bisa mengiba dengan menjadi seorang peminta-minta,” tandasnya.

Irma Suryati: Angkat Martabat Penyandang Cacat Lewat Kain Perca
Juni 24, 2011
tags: Agus Priyanto, Irma Suryati, kerajinan tangan, pengusaha keset, Penyandang Cacat
oleh indonesiaproud

Sumber: KickAndy.com, KoranTempo (gerakpemuda.wordpress.com), slamet-nusakambangan.blogspot.com

Magang Kerja Jepang

Ingin magang Kerja Ke Jepang.???
Ikuti Program Pemagangan IMM Japan kerjasama Disnakertransos RI dengan IMM Japan: Syarat: 1. Pria 20-26 tahun 2. Pendidikan minimum SLTA 3. Tinggi badan min 160 cm 4. Tidak bertindik/tato 5. Sehat jasmani dan rokhani 6.... Lulus tes seleksi Keutamaan 1. Program resmi pemerintah 2. Kontrak kerja 3 tahun 3. Tunjangan 10-20 juta/tahun 4. Tiket pesawat gratis PP 5. Asrama Listrik, Air dan Gas di tanggung perusahaan 6. Asuransi 7. Sertifikat JITCO 8. Tunjangan modal usaha 60 juta Segera bergabunglah bersama kami dalam diklat persiapan seleksi magang Jepang Biaya Diklat hnaya 2 juta (dua juta rupiah). Akan kami bombing hinga bernagkat ke Jepang) LPK ERHA EDUCATION Ijin Disnakertransos Nomor: 563/015/PL/2010. Sekretariat: Jl letjen Suprapto 14 Kebumen. Telp: 0287-385349, HP: 087737739009/085210107747 Email:erhaeducation@yahoo.com website http:www/erhaeducatian.com See More
By: Disnakertransos Kebumen